PAYUNG
Hujan kini telah menjadi hal yang
lumrah menemani hariku ditiap kulangkahkan kaki, langit seakan menangis diitiap
hari melihat bumi, terjamah oleh tangan-tangan yang tidak memiliki rasa
tanggung jawab, dan menjadikan bumi bagaikan “pelacur” bagi mereka yang
mengambil keuntungan untuk kepentingan mereka sendiri.
Walaupun langit terlihat marah,
terlihat gusar melihat bumi yang menjadi pasangnya hingga akhir, hanya
dipermainkan tanpa mengerti bahwa bumi pun punya usia, bumi pun punya batas. Kini
kumulai melangkahkan kaki dari teduhnya bangunan yang aku singgahi, tanpa
berfikir apakah aku akan sempat berteduh kembali ditempat ini, tempat dimana
semua rasa nyaman dan aman berkumpul menjadi satu.
Berat rasanya meninggalkan teduh
yang menghangatkan, melangkahkan kaki untuk bertemu topeng-topeng yang hanya
menyakitkan mata, suara-suara yang hanya mendengungkan telinga, sejenak ku
terhenti dengan nada-nada indah yang dimainkan oleh rintik-rintik hujan yang
berkolaborasi dengan dedaunan yang sudah menjadi semen, dan pohon yang telah
menjadi beton-beton tinggi.
Kini kulangkahkan kakiku ditemani
teduh yang hanya menahanku membasahi seluruh raga ini dengan hujan, kembali
kumerenung akan kenangan-kenangan beberapa tahun yang lalu, yang membuatku
bahagia saat mulai mendengar rintihan langit dan air jatuh membasahi bumi, dan
kuberlari ditanah lapang sembari menyanyi, menari, dan berputar seakan langit
saat itu tak bersedih melainkan menjatuhkan tangis bahagia.
Kini kenangan hanya akan menjadi
penghias, ketika dunia tak lagi menyenangkan. Birunya langit tak lagi Nampak tertutupi
debu-debu, lirih angin tak lagi terdengar terasingkan dengan suara-suara mesin
yang “katanya” mempermudah manusia. Berjalan menyusuri tanah yang telah
terselimuti aspal dan beton-beton yang keras, berjalan yang terlihat asing bagi
mereka yang duduk dan melihat dibalik kaca yang tertempel pada besi-besi yang
menampakkan bentuk-bentuk.
Sebenarnya ingin ku buang payung
yang menemaniku, namun terlalu berbahayanya air yang turun dari langit setelah
melewati gumpalan-gumpalan debu itu, hingga ku terpaksa melanjutkan jalan untuk
sekedar bertemu dan melihat, hari ini ekspresi topeng seperti apa yang mereka
gunakan.
Tak lagi Nampak keceriaan dari
raut wajah manusia-manusia kecil yang hanya duduk didepan kotak bersinar
sembari menggunakan sesuatu di atas kepala mereka sehingga menutupi telinga
mereka, tak lagi terdengar bahasa-bahasa sederhana yang tergetarkan dari pita
suara manusia itu, melainkan bahasa-bahasa yang tak ada artinya, bahkan tak
terjemahkan oleh diriku sendiri.
Manusia-manusia bertubuh sedang,
kini disibukkan dengan kotak bersinar yang lebih kecil lagi, dengan penutup
telinga, seakan dunia tak pernah bersuara. Tak ada lagi senyum dan sapa yang
terlihat dihari ini, mereka disibukkan dengan kotak bersinar tadi, entah
mengapa dunia ini hanya dipenuhi dengan kotak dan besi yang tak berguna.
Berjalan memang sedikit
melelahkan, hingga akhirnya diriku tak sadar, bahwa kini ku telah berada di
jajaran hutan-hutan beton yang salah satunya menjadi tempatku untuk bertemu
dengan manusia-manusia bertopeng lagi, lagi dan lagi. Seperti dalam pewayangan,
mereka telah memiki peran masing-masing yang mereka pertahankan hingga kini. Entah
dari mana asal topeng-topeng yang mereka gunakan, karena sebagian besar dari
mereka hanya membawa kotak bersinar yang manusia-manusia sedang, tadi gunakan. Bahkan
mereka tak mengenal lagi yang namanya tas.
Tak ada seorang pun yang tersapa,
karena hanya dusta yang terucap, entah karena ketidak percayaan akan topeng
yang mereka gunakan, atau ku tidak bisa membedakan yang mana topeng yang mana
wajah, menurutku sama sajalah.
Kini ku mulai mengeluarkan kayu
yang berisi tinta dan mengeluarkan kulit pohon untuk mulai menuliskan hari demi
hari, namun mereka hanya duduk diam menggerkkan jemari mereka di depan kotak
bersinar yang sedang, dan menyambungkannya keselang-selang menuju plastic yang
didalamnya telah diselipkan beberapa helai dahan pohon.
Saat kembali menuju tempat teduh
tadi, langitpun seakan kehabisan air mata, hingga hujan kini terhenti. Kulihat dedaunan
yang dulunya kelihatan segar dan hidup ketika terbasuh oleh air yang datang
dari langit, kini Nampak layu dan kusam, bahkan ada yang Nampak cokelat dan
berguguran, itukah sebabnya mengapa di kotak yang mampu berbicara menghimbau
pengguna jalan untuk berhati-hati terkena air hujan yang mereka sebut tercemar
polusi udara, dan menamakannya dengan hujan asam. Entahlah.
Kini kutersadar, dari mimpi masa
depan yang tadinya kuanggap menyenangkan menjadi musibah bagi generasi penerus,
teknologi yang dibuat sekarang hanya akan membuat manusia melihat dirinya
sendiri tanpa menghiraukan manusia lain, anak kecil tak ingin lagi berlari di
padang yang luas karena tak ada lagi padang untuk berlari digantikan dengan
gudung-gedung tinggi, mereka hanya betah bermain dengan sesuatu yang tidak
nyata dalam jejaring social dan game-game online yang hanya membuat mata dan
pikiran menjadi bodoh. Para remaja tak lagi membenturkan ideology dan pemikiran
mereka satu sama lain dalam sebuah forum diskusi, melainkan hanya terfokus
kepada gadget mereka yang canggih dan sakti manraguna.
Lingkungan menjadi tak aman lagi
akibat pencemaran-pencemaran yang dilakukan pabrik-pabrik penghasil teknologi
yang berimingkan kemudahan manusia. Biarlah kini ku menjadi pria berpayung,
yang memayungi masa depan agar mimpi itu
hanya sekedar mimpi belaka, dan biarlah kita semua menjadi pembuat payung,
untuk melindungi generasi penerus dari keindahan kemudahan yang memilukan.
Jadikanlah aku payung
untuk melindungi mereka generasi penerus
Dari teriknya matahari
yang melewati lapisan ozon yang bocor
Dari pahitnya hujan
yang tercemar polusi
Dari topeng-topeng yang
membuat kita bertanya


Komentar
Posting Komentar